Entah mengapa, sering sekali di masa mulai menua ini menemui orang-orang berpotensi, namun merasa nggak ‘cool’ , nggak keren. Padahal prestasi sudah ditorehkan dengan jelas di bidang yang digelutinya. Sepanjang hari sibuk minta pengakuan orang lain dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat membutuhkan jawaban pengakuan atas prestasinya. Sikapnya itu justru membuat orang merasa kasihan. Padahal dengan prestasinya itu , cukup dengan bergaul secara wajar saja maka orang lain akan tunduk hormat padanya. Biasa-biasa saja lah … . Salah satu penyebabnya adalah ia (sebutlah bernama Gustav) hanya punya satu pakem, bahwa orang yang dikaguminya-lah yang keren, cool, dan dia mati-matian menarik simpati orang yang dianggapnya cool bin keren. Lhah… padahal , sebutlah si Abraham yang kebetulan dianggap cool oleh si Gustav, sedang mengalami perasaan yang kurang lebih juga sama dengan Gustav tadi. Gara-garanya si Abraham ini sedang jualan tapi jualannya tidak seuntung jualan Gustav…. nah… runyam kan?
Hanya saja bedanya, Abraham merasa lebih ikhlas dengan seretnya jualannya yang belum berbuah lebat, Abraham yakin ada Sang Pengatur dibalik semua itu, Abraham lebih fokus belajar untuk membenahi kekurangannya, dan lebih optimis bahwa keberhasilan itu prosesnya puuuuaaaanjaaaang… , keyakinan itulah yang tak dimiliki Gustav. Sedang Gustav dengan kemampuannya ber-marketting ia telah mendapatkan pengakuan berupa bonus materi dari bossnya, rekan sejawatnya pun menyaksikan dan memberi selamat atas prestasinya itu. Tentu saja Gustav melompat girang atas buah dari kerja kerasnya itu. Tapi tetap saja Gustav penasaran berat pada Abraham yang biasa-biasa saja. Kasihan sekali bukan ?
Cool itu apa ? Kalau kata guru bahasa Inggris mah, cool itu dingin. Tapi di bahasa Indonesia-gaul (yang tidak sesuai EYD tentu saja), cool itu keren dan mengagumkan. Siapa pemilik cool itu ? Tentu saja setiap orang mempunyai, kecuali orang itu tidak dalam kesadaran penuh. Cool sudah ada di hati masing-masing orang. Proses menemukannya saja yang bervariasi untuk masing-masing orang.
Mungkin ada sebagian orang yang tidak percaya “Ah, masak sih setiap orang itu keren ?!! Bagaimana dengan profesi pencari cacing tanah, itu keren juga?!!”
Jawabnya, “He he he , tentu saja iya … “ , dan dengan profesinya itu tentu saja ia juga merasa nggak keren ketika ia lebih banyak melihat ke atas. Namun ketika ia melihat anak dan istrinya lagi, ia akan kembali berubah menjadi keren (baca : percaya diri) karena istrinya memujanya abizzz dan anak-anaknya membela sang ayah dengan cara ikut mencari cacing tanah juga membantu sang ayah.
Jadi, masih ingin berkelit dengan ungkapan ,”ah, saya kan nggak keren…”. Hm… saya beri tahu ya, saya juga terlalu banyak pertimbangan sebelum mempublikasi tulisan ini gara-gara merasa tulisan ini nggak keren , nah, sama saja ternyata…
Sampai ketemu lagi, salam cool.