Menari di Bawah Hujan
Hari Sabtu dengan aura pergantian tahun Masehi dari 2011 ke 2012 rupanya cukup membawa jari-jari ini memulai blogging. Memiliki teman di jejaring Facebook, membaca banyak resolusi mereka dan kata-kata bijak mereka melatih kita lebih bertoleransi. Tidak hanya peringatan tahun baru Masehi yang mendunia, atau hari-hari di bulan puasa umat Islam, atau peringatan hari lahir seseorang atau momen-momen penting lainnya, setiap hari sebenarnya adalah perjuangan yang sama.
Jika saat ini telah sampai pada kesimpulan bahwa sedih dan gembira hanyalah sebatas kata-kata, itu karena kita memahami setiap hari adalah perjuangan yang sama. Sedih , kita harus menahannya menerimanya, pun gembira, kita harus menahannya menerimanya.
Kita suka lupa bahwa Tuhan tidak memberikan apa yang telah bisa kita handle, tapi membantu kita meng-handle apa yang DIA berikan pada kita. Itu sebabnya kita sering mengeluh sulit, karena kita belum piawai mengatasi hadiah Tuhan yang ada dalam genggaman kita saat ini. Maka pemberian kejadian itu adalah bantuan dariNYA agar kita mampu mengatasinya. Reaksi pemberontakan sering terjadi, orang lari dari masalah, mengundurkan diri, menolak, marah, dan berbagai reaksi yang manusiawi.
Menari di bawah sinar lembut matahari relatif lebih mudah dibanding menari di bawah hujan deras.
Keep blogging, share the spirit no matter whatever they say…
To Nana : trims komennya, syukur bisa memberi inspirasi buatmu… , suatu saat saya pun butuh input darimu…
ATA…..suka banget dengan kalimatmu ” Kita suka lupa bahwa Tuhan tidak memberikan apa yang telah bisa kita handle, tapi membantu kita meng-handle apa yang DIA berikan pada kita.”
Membuat kita ingat untuk tidak mengeluh, karena Allah memberikan ujian, cobaan, masalah atau apapun itu namanya…. pasti satu paket lengkap dengan SOLUSI-nya